KKN
(KULIAH KERJA N. . . )
Nb
: Isi sendiri N-nya wkwwkwwk
Kuliah
Kerja Nyata (KKN), adalah suatu program dari Perguruan Tinggi melalui Unit LPM
(Lembaga Pengabdian Masyarakat) yang menerjunkan mahasiswanya untuk bertindak
nyata dalam masyarakat sesuai dengan salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi
yaitu, melakukan pengabdian terhadap masyarakat Indonesia. Dalam program KKN ini, mahasiswa yang sudah
mengambil mata kuliah diatas 100 sks wajib melaksanakan program kerja dalam
bentuk pengabdian untuk masyarakat selama 30 hari. Masyarakat dalam hal ini
adalah masyarakat yang memang benar-benar membutuhkan uluran tangan kita untuk
menjadikan desa ataupun masyarakatnya lebih positif. Universitas Negeri Jakarta (UNJ) adalah
perguruan tinggi negeri yang biasanya menerjunkan mahasiswa KKNnya di daerah
Banten, Purwakarta, Subang, Bogor, dan Suka Bumi. Di daerah ini kemudian
dipilih lagi desa mana yang tepat untuk menjadi sasaran dari program KKN ini.
Tentunya, pihak unit LPM akan memilihkan daerah yang mungkin bisa dibilang
daerah yang tertinggal dari daerah lainnya.
Awal
tahun 2016 ini bisa dibilang tahun yang cukup menantang untuk formulaan di
bulan pertama. Inilah tahun yang benar-benar membuatku merasa menjadi orang
yang seharusnya selalu bersyukur terhadap sang pencipta. Yaa, “KKN” inilah yang
membuatku menjadi semakin melek terhadap hidupku sendiri, orang lain, dan
bangsa ini. jika dijelaskan, mungkin akan menjadi Luas sama dengan panjang kali
lebar. Pengalaman yang bisa jadi hanya kali ini saja aku merasakannya.
Pengalamanku
selama ini yaa seperti mahasiswa
lainnya, terkadang bisa jadi kupu-kupu (kuliah-pulang), kuda (kuliah-dagang),
kura-kura (kuliah-rapat), dan juga kunang-kunang (kuliah-nangkring). Namun kali
ini sedikit berbeda, sepertinya akan ada hari-hari yang lumayan sulit selama 30
hari kedepan di bulan pertama tahun 2016 ini. yaa, “Pengabdian”.
Ternyata,
selama dua puluh tahun lebih sebelum usia ku bertambah angka 1, aku hanya sibuk
dengan diriku sendiri. Betapa sibuknya aku memikirkan masa depanku saja,
memikirkan kapan aku akan memilih calon imamku, dan kapan aku akan memiliki
keturunan yang lebih baik dariku. Aahaaayyy…. Jiwa yang masih muda ini terlalu
sombong rupanya, terlalu keras kepala, dan tak mau peduli. Mengapa juga aku tak
pernah memikirkan mereka, sedikit tak peduli dengan bangsa yang katanya sudah
merdeka setengah abad lebih.
Oke,
kembali lagi soal Pengabdian. 16 Januari 2016 lalu, aku dan 29 orang lainnya
dengan bangga mengenakan jaket berwarna hijau agak tua. Pukul 12.00 siang, kami
tiba di Desa Sirnagalih, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Provinsi
Banten. Tentu saja kami merasa senang, berfoto ria, selfie yang katanya biar
kekinian. Bagaimana kami tidak merasa senang, ini desa yang sangat bersih yang
pernah aku lihat. Udaranya berbalik seratus delapan puluh derajat dari udara di
Ibu Kota. Jelas saja, sudah sesiang ini udaranya masih terasa sejuk dan segar.
Mata kami juga dimanjakan dengan panorama yang begitu asri, melihat gunung dan
perbukitan sedekat ini jarang sekali aku lakukan. Beruntunglah aku mendapat
daerah untuk KKN yang ternyata sebuah desa yang diapit oleh tiga gunung, yaitu
gunung pulo sari, gunung Aseupan, dan Gunung Karang. Dalam hati ini ya hanya
memikirkan indah-indah saja, beruntungnya kami mendapat daerah seindah ini yang
juga menjadi point plus untuk liburan kami sebulan kedepan.
Pagi
Sirnagalih yang Indah ini, sebulan kedepan aku akan menyapamu dengan senyum
yang ikhlas, menyapa embun pagi dan kamu yang hijau terbentang. Bermain dengan
kupu-kupu dalam warna-warni bunga segar. Bagaimanapun juga aku akan menjadi
sahabatmu, juga menjadi sahabat angin yang sejuk di siang hari, dan angin yang
dingin di malam hari.
Minggu,
17 Januari 2016, sedikit demi sedikit aku ingin mengenal mereka. Masyarakat
Sirnagalih yang begitu ramah dan baik hati sudah menerima kami para pemuda yang
agak tengil. Karena kerja kami belum mulai, dan baru akan dimulai senin besok,
aku dan yang lain menyusuri sepanjang jalan utama Kecamatan Mandalawangi.
Sepanjang jalan, kami terus saja mendapat salam sapa dan senyum yang begitu
ramah oleh anak-anak kecil, “ kakak,
kakak” yaa itulah respon mereka ketika melihat kami berada di desa ini. aku
bahkan bingung mengapa meraka sangat antusias kepada kami. Tiba-tiba
menghampiri kami, dan langsung menjadi akrab dengan kami. Sudah berani
berinteraksi dengan fisik, anak-anak ini senang menggandeng tangan kami, dan
memeluk kami.
Pun
dengan orang-orang dewasanya, mereka juga sangat ramah dan selalu ingin
berjabat tangan dengan kami. Mengajak kami mampir ke rumahnya. Tapi sepanjang
kami jalan, aku belum melihat anak-anak muda disini apalagi melihat perempuan
sebaya kami. Di Desa ini lebih dominan dengan orang tua dan anak-anak kecil
saja. Rasa penasaran ini akhirnya aku tanyakan pada Ibu Uum, Ibu yang kebetulan
adik dari ibu yang rumahnya menjadi homestay kami. Bu Uum mengatakan, bahwa
disini para pemuda dan pemudinya kebanyakan menjadi perantau di Ibu Kota.
Mereka biasanya pulang hanya waktu-waktu tertentu saja, misalnya ketika hari
Raya Idul Fitri. Ketika lulus SD ataupun SMP, kebanyakan mereka lebih memilih
untuk bekerja ketimbang melanjutkan sekolah dengan alasan tidak adanya dukungan
financial untuk pendidikan.
Satu
hari, dua hari, tiga hari, aku sudah mulai agak faham dengan kultur disini. 17
Januari 2016, kami sudah mulai harus bergerak menyelesaikan program kerja kami.
Hari pertama, belum terlalu sibuk, kami masih menganalisis kebutuhan apa yang
cocok untuk Desa Sirnagalih ini. namun yang jelas kita punya tiga Program yang
wajib kita lakukan disini. Untuk yang Jurusannya berlatar belakang Pendidikan
kami harus mengajar di sekolah. Karena ada 18 orang yang latar belakangnya
pendidikan, akhirnya 18 orang orang tersebut dibagi untuk menjadi pengajar di
SDN Sirnagalaih. Jumlah SD di Desa ini ada tiga, yaitu SD Sirnagalih 1 di
kampung Sirnagalih, SDN Sirnagalih 2 di Kampung Sirnagalih, dan SDN Sirnagalih
3 di Kampung Kadu Kaso. Akhirnya enam orang harus mengisi satu sekolah.
Dan
yaaapp, aku ternyata kebagian mengajar di SDN Sirnagalih 3 di Kampung Kadu
Kaso. Dan bisa dikatakan, aku mendapat Sekolah yang katanya masih jauh
kualitasnya dari sekolah-sekolah lain di Kecamatan Mandalawangi. Ini menjadi tantangan
tersendiri untuk kami. Bahkan untuk menuju SD ini, kami harus melewati beberapa
kampung dengan perjalanan yang cukup jauh dan menanjak, jalanannya juga tidak
terlalu bagus. Terkadang kita harus becek-becekan ketika malamnya hujan. Kami
tak mau ambil pusing, ini hanya masalah kecil jika kami melakukannya dengan
ikhlas dan senyum bersama dengan teman seperjuangan. Untuk mengganti rasa lelah
ini, kami tak hentinya mengeluarkan banyolan-banyolan yang mungkin bagi orang
lain tidak penting tapi bagi kami, candaan dan tawa dari teman-temanlah yang
membuat langkah ini tidak begitu melelahkan.
Dan
lagi, ketika kami mengajar, tawa dan wajah anak-anak kami yang antusias menimba
ilmu juga menjadi obat lelah kami. Namun sayang seribu sayang, aku merasa ada yang
tidak adil bagi mereka. Anak-anak yang masih polos dan seharusnya mendapatkan
pendidikan yang layak justeru sangat jauh dari kata beruntung. Entahlah, harus
dari mana dulu aku menjelaskannya. Ruangan ini sudah tua, pintunya juga tidak
bisa ditutup, papan tulisnya tidak seputih selayaknya whiteboard, ada lemari
kecil tapi tak ada pintunya, agak sedikit berdebu dengan tumpukan buku yang
warnanya sudah kekuningan, kusut dan lusuh. Di sudut belakang ada bangku dan
meja yang sudah patah-patah. Dinding yang agak retak-retak, dan atap yang bocor
kalau sedang hujan. Tidak ada media untuk belajar di ruang kelas ini. Aku
bahkan sempat negative melihatnya, ini bukan seperti ruangan untuk belajar.
Aku
menikmati hari-hariku di sekolah ini, melihat mereka selalu menyambut
kedatangan kami dengan suka cita. Pagi ini, sudah ada sarapan rupanya di meja
kantor. Ibu Entat yang baik hati sengaja menyiapkannya untuk kami. Begitulah
setiap pagi kami mengajar. Ibu yang satu ini selalu perhatian pada kami, selalu
mengajak kami makan bersama dan main ke rumahnya. Ada sedikit perbincangan
singkat antara kami, “kita, guru-guru disini sudah mengajukan minta bantuan
untuk memperbaiki sekolah ini. kami sudah berusaha dari beberapa tahun yang
lalu, namun belum ada upaya dari pemerintah untuk sekolah ini”.
“bagaimana
tidak, anak-anak disini juga secara kualitas masih kurang dari SD lainnya.
Mengingat sarana dan prasarana juga tidak memadai untuk menunjang anak-anak
kita belajar”, (ujar bapak safrudin selaku guru mata pelajaran Agama Islam).
Pun sama dengan teman-teman yang juga mengajar di SDN Sirnagalih 1 dan 2,
mereka juga merasakan bahwa SDN tempat mereka mengajar masih jauh kualitasnya
dengan daerah lain. Dan masalah minimnya sarana prasarana juga yang kemungkinan
menghambat kualitas pendidikan mereka. Ini
dia satu masalah dan satu kebutuhan yang akhirnya aku temukan di Desa
Sirnagalih. Pendidikan, pendidikan adalah yang menjadi kebutuhan masyarakat
desa Sirnagalih. Namun sepertinya masyarakat Desa ini kurang menyadarinya bahwa
sebetulnya pendidikan lah yang mereka butuhkan.
Rabu,
28 Januari 2016, kami mahasiswa KKN diminta untuk menjadi panitia dan peserta
Musrenbang Desa Sirnagalih (Musyawarah dan Rencana Pembangunan Desa). Karena
bertepatan dengan jadwal mengajarku, aku putuskan ikut Musrenbang setelah jam
pelajaran pertama selesai, aku dan teman-teman yang mengajar di SDN Sirnagalih
3 meminta izin untuk menyusul Ke Musrenbang. Acara sudah berlangsung setengah
agenda. Aku coba untuk mendengarkan dan menganalisis apa yang mereka musyawaratkan.
Di barisan duduk paling depan ada aparatur desa, dan Ketua kecamatan yang
memimpin Musyawarah ini.
Sepanjang
pembahasan, sedikitpun aku tak mendengar mereka menyinggung masalah pendidikan.
Mereka hanya focus pada masalah perbaikan jalan, irigasi, dan kegiatan PKK
lainnya. Apa mungkin pendidikan bukanlah menjadi hal prioritas bagi pembangunan
Desa ini?
Sepanjang
kita mengajar di sekolah dan mengajari mereka di bimbingan belajar diluar
sekolah, memanga ada sedikit yang membuat kita merasa miris. Anak-anak itu
sungguh lucu, tulus dan juga polos. Namun sayang secara pengetahuan, mereka
masih tertinggal jauh dengan pendidikan di desa-desa lainnya. Secara kualitas
bisa dibilang masih kurang. Untuk ukuran siswa kelas 3 ataupun 4 SD, semestinya
mereka sudah lancer membaca, menulis, dan berhitung. Namun pada kenyataannya
tidak untuk desa Sirnagalih ini. Menurutku, ini bukan hal yang sepele. Ini
menyangkut dengan masalah Sumber Daya Manusia Indonesia. Pasalnya,
mereka juga jarang sekali ada yang melanjutkan sekolah ketingkat yang lebih
tinggi lagi. Mereka lebih memilih menjadi asisten rumah tangga, ataupun pelayan
toko di Jakarta setelah tamat SD atau SMP.
Pendidikan
adalah salah satu modal dalam pembangunan bangsa ini, untuk menciptakan sumber
daya manusia yang berkualitas maka manusia harus terus belajar. Memang ada
beberapa yang bilang bahwa hakikatnya, belajar tidak harus dengan menempuh
pendidikan yang tinggi. Namun beda lagi konteksnya jika membicarakan perspektif
pendidikan dalam pembangunan suatu Negara. Masyarakat akan banyak memperoleh
ilmu dan pengetahuannya ketika mereka harus duduk bertahun-tahun di bangku
sekolah. Mereka balajar dari hal yang paling dasar dan sederhana hingga hal
yang lebih kompleks lagi. Pengalaman mereka selama itu adalah modal untuk dapat
menjadi seseorang yang berdaya saing.
Olehkarenanya,
inilah yang ingin aku dan teman-teman yang lain mengabdikan diri yang katanya
merupakan kaum akademisi dan intelek. Yang “katanya” juga merupakan generasi
penerus dalam memajukan bangsa. Aku tidak mau terlalu muluk-muluk, aku hanya
ingin mereka bisa menjadi anak-anak cerdas generasi emas tahun-tahun
berikutnya. Desa Sirnagalih ini merupakan desa yang bisa dibilang potensial
juga secara geografis. Jika anak-anak ini memang terlahir sebagai generasi
Emas, maka meraka dapat membawa Desa yang berpotensi ini lebih layak lagi dalam
berbagai aspek kehidupan. Baik dari segi ekonomi, sosial, budaya, dan politik
serta aspek-aspek kehidupan lainnya.
Kesempatan
mengajar selama satu bulan mengajar ini takkan aku sia-siakan begitu saja.
Awalnya sempat bingung juga, apa yang harus aku berikan untuk anak-anakku di
desa ini. rasanya tidaka kan cukup jika aku hanya member mereka pengajaran
saja. Aku butuh sesuatu yang lebih untuk membuat mereka labih semangat
bersekolah dan mau mengejar prestasi sebagai hasil belajar mereka selama ini.
“Motivasi”
yaa, ini sepertinya akan menjadi tepat bagi mereka untuk dapat menjadi generasi
emas yang membanggakan. Jika dilihat, selama ini guru-guru yang mengajar di SDN
Sirnagalih sepertinya terlalu focus dalam pembelajaran dengan model teacher
center. Gaya belajar mereka harus sedikit diubah rupanya. Aku disini mencoba
sotoy, bukan maksudku ingin mendahului para guru disini. Aku hanya ingin
memberikan yang terbaik untuk anak-anak ku. Inilah caraku sendiri dalam
membimbing mereka, bisa dibilang ini pengalaman pertamaku mengajar di sekolah
formal. Dengan ilmu dan pengetahuan yang belum terlalu matang mungkin, aku
mencoba merangkul mereka selayaknya seorang ibu yang ingin membesarkan anaknya
dengan baik.
Sederhana
saja, setiap masuk kelas aku pasti selalu menanyakan kabar mereka satu persatu
ketika aku sedang memeriksa daftar hadir. Aku juga selalu bertanya apakah
mereka sudah paham dan mengerti dengan materi pelajaran yang aku sampaikan.
Jika belum, aku pasti akan mengulanginya sampai mereka benar-benar paham. Butuh
kesabaran memang, karena anak-anak ku ini bukan anak-anak yang seperti siswa di
perkotaan. Belum lagi ketika ada anak-anak cowok yang terus saja rebut berebut
pulpen atau apapun. Dan lagi, aku juga harus paham dengan ekspresi wajah mereka
ketika sedang bosan. Tentu saja aku harus melakukan sesuatu, mengajaknya
bermain sambil belajar adalah salah satu cara untuk menghapus kebosanan mereka.
Dengan begitu mereka akan kembali tersenyum dan kembali bersemangat lagi untuk
belajar.
Aku
senang bisa melakukan ini bersama mereka, senyum kecil dari mereka saja sudah
membuat hati ini lega, dan juga mengurangi detak jantung yang sangat kencang
ketika pertama kali bertemu mereka. Ada salah satu anakku yang nyeletuk begini
“ kakak, kakak disini saja ya, aku kalo gede mau jadi kayak kaka biar pintar”
aku menatap wajah polosnya yang sedari tadi terus memandangiku. “ okay, tos
dulu doong. Tapi Kakak nanti mau pulang dulu ke Jakarta biar kaka jadi orang
pintar juga. Kalo ada kesempatan, kakak nanti belajar dan main lagi bareng
kalian ya”
Dua
minggu sudah aku bersama anak-anak desa Sirnagalih, mereka menyenangkan,
terlebih aku juga tidak punya adik yang selalu menggelendotiku. Jadi ketika
mereka melakukan itu padaku, aku anggap saja mereka seperti adik atau anakku
sendiri. Kapan punya suaminya?? Hixhix walaupun terkadang, mereka sering
membuatku kerepotan. Setiap hari mereka selalu datang ke homestay kami. Memang,
kita membuka jam belajar diluar belajar di sekolah. Kami sudah membuat jadwal
untuk mereka, namun tetap saja mereka selalu datang meskipun bukan hari
dijadwal mereka belajar. Terkadang hal ini yang membuat aku dan teman-teman
sedikit meresa jengkel, karena waktu istirahat kami sedikit terganggu. Tapi
bagaimanapun juga, kami selalu membuka pintu ini untuk mereka, tetap saja kami
tidak tega dan ingin belajar bersama mereka.
Selama
dua minggu ini, sudah banyak program kerja yang kami jalankan di desa yang
indah sejuk, dan santri ini. program selain mengajar ini adalah gotong royong,
pembuatan plang untuk penunjuk arah jalan, dan terakhir adalah kami mengadakan
acara festival Islamic untuk Desa Sirnagalih.
Gotong
royong ini dilakukan, karena desa ini memang bersih, namun mereka masih belum
menyadari bagaimana menjaga lingkungan dan emmanfaatkan limbah. Olehkarenanya
kami melkasanakan gotong royong atau kerja bakti dengan maksud untuk
mensosialisasikan kebersihan lingkungan. Karena pada umumnya Desa Sirnagalih
ini selalu membuang sampah dengan cara dibakar, maka jarang sekali setiap rumah
memiliki tong sampah, akhirnya kami mensosialisasikan pada mereka untuk memilah
dan memilih sampah mana yang perlu dibakar dan mana yang masih bisa didaya
gunakan. Sosialisasinya adalah, pertama kami membersihkan lingkungan sekitar
terlebih dahulu, pada kerja bakti ini kami memisahkan sampah yang bersifat
organic dan anorganik. Terutama jenis sampah yang bersifat botol, kami
kumpulkan menjadi satu untuk didayagunakan pada bank sampah. Dengan begitu, hal
ini dapat menjadi nilai tambah bagi pendapatan Desa Siranagalih.
Plang,
Plang ini merupakan salah satu program kerja kami yang berkaitan dengan tata
ruang Desa ini, gagasan untuk membuat plang penunjuk arah jalan ataupun denah
lokasi ini berawal dari ketidaktahuan kami mengenai batas-batas antar kampung
di Desa Sirnagalih ini. dan juga, Plang ini untuk mempermudah dan memperjelas
mayarakat setempat ataupun masyarakat pendatang yang kebingungan ketika mereka
mencari suatu tempat yang akan didatangi. Respon wrga mengenai pemasangan plang
ini juga menunjukan reaksi baaik. Mereka sangat senang dengan adanya
pembaharuan di desanya. Pemasangan plang ini tidak terlalu membutuhkan banyak
panitia. Hanya dikerjakan oleh mahasiswa cowok. Mereka terlihat antusias dan
juga semangat. Meski ketika memasang plang ini tiba-tiba hujan mengguyur
mereka, namun mereka tetap tersenyum bersama dan tanpa ada perasaan berat hati
serta tak dengar suara mengeluh mereka. Aku senang bisa memiliki mereka yang
selalu ikhlas dalam bekerja. Keluarga baru yang begitu humble dan periang.
Beruntung sekali bisa dipertemukan dengan mereka.
Dan
akhirnya kami sudah hamper pada penghujung KKN. H-4 sebelum kami meninggalkan
desa yang sangat ramah ini, kami menyelenggarakan acara festival Islamic Desa
Sirnagalih. Persiapan festival ini sudah berlangsung satu minggu yang lalu.
Bukan tanpa alasan kami menyelenggarakan acara ini. desa sirnagalih adalah desa
yang religious, budaya keislaman di desa ini sangatlah kental. Mulai dari
budaya mengaji saat masih usia dini, pengajaian ibu, pengajian bapak-bapak,
Qasidah, dan juga acara-acara keislaman yang selalu mereka peringati. Oleh
sebab itulah kami menyuguhkan acara dimana masyarakat dapat menikmati sebuah
festival dimana nuansa festival ini sesuai dengan budaya mereka yang sangat
islami.
Konten
acara pada festival Islamic ini diantaranya, kami mengadakan lomba adzan untuk
anak-anak, lomba hafidz untuk anak-anak, dan lomba qasidah untuk umum.
Rangkaian acara berlangsung selama dua hari sebelum kepulangan. Acara ini
menjadi acara penutup sekaligus perpisahan kami bersama warga desa Sirnagalih.
Partisipasi warga patut diacungi jempol, kami tidak sia-sia menyelenggarakan
acara ini. pasalnya mereka sangat antusias dalam mengikuti lomba. Kompetisi ini
menurut mereka, adalah salah satu batu loncatan bagi anak-anak untuk tetap
bersemangat dalam mengaji dan terus belajar meningkatkan kualitas diri dalam
keimanannya. Dan juga, kompetisi ini membuat masyarakat menjadi bisa
silahtuhrahmi antar kampung/rt/rw. Mereka mengatakan kepuasaanya dalam festival
Islamic ini, kita bisa tertawa bersama, berjuang bersama dan berbagi. Meski
sempat hujan sebentar, kami tidak terlalu memperdulikannya. Ini bukan masalah
yang besar bagi panitia dan warga. Kami masih bisa menikmati acara yang semakin
menarik ketika ada salah satu regu qasidah yang sungguh spektakuler menampilkan
qasidahnya. Sampai-sampai, ibu dari pak Lurah memberikan sawer. Penonton jadi
semakin tertawa. Mahasiswa senang, warga pun senag heeehehee.
Banyak
sekali cerita yang kita tulis disini. Di ruang dan dalam waktu yang ternyata
cukup singkat. Pengalaman luar biasa tak akan bisa kamu miliki jika kamu hanya
diam dan tak melakukan apa-apa. “ Magic is something you make” mungkin, yang
aku dan teman-temanku lakukan ini tidaklah begitu besar. Bahkan aku masih
merasa bahwa kami tidak melakukan apa-apa untuk mereka. Masih banyak kekurangan
dari tangan-tangan yang lebih sering manja ini. kami masih sangat egois,
justeru kamilah yang mendapat banyak sesuatu dari mereka. Namun apapun itu,
setidaknya aku merasa lega ternyata aku bisa menjadi seseorang yang pernah
hadir dalam hidup mereka juga. Setidaknya aku bisa membuat anak-anak itu
tersenyum, membuat masyarakat tersenyum. Bukankah itu juga merupakan ibadah ? Pengalaman dan pelajaran yang mungkin tidak
kami temukan di rumah sendiri, di ruang kelas ataupun di tempat lain. Bagaimana
kita menghargai orang lain, menerima kekurangan, berbagi, dan mungkin sampai
harus rela berkorban. Dan lebih banyak lagi perasaan-perasan yang mungkin tidak
bisa disampaikan.
“APAPUN
PROFESIMU, DIMANAPUN KAMU BERADA, TIDAK ADA ALASAN BAGI KAMU UNTUK TIDAK
BERBAGI DAN MENYEBARKAN KEBAIKAN”“HIDUP
ITU HARUS BERMANFAAT, SELEBIHNYA TUHAN YANG AKAN MEMBALAS”