Jumat, 05 Mei 2017

GURU


GURU
Guru, di gugu dan ditiru. Begitulah orang beranggapan tentang profesi yang satu ini. Dalam dialek jawa, digugu berarti diperhatikan, dan ditiru sudah pasti melakukan sesuatu  sama seperti yang telah diperhatikan. Dua kata ini seolah-olah tidak mengandung makna yang negatif, bahkan menjadi kata super yang menurutku sendiri agak sensitif. Bagaimana tidak, dari maknanya kita beranggapan bahwa seorang guru adalah menjadi teladan yang seharusnya diperhatikan dan ditiru. Jika salah sedikit saja, mungkin akan ada banyak orang yang protes dan menaruh ketidakpercayaan.
Lalu apakah digugu dan ditiru itu sudah ada pada semua guru ? jawabannya, bisa ditanyakan pada hati kalian masing-masing. Sifat dan tabiat seseorang  itu sudah dilakukan sebelum kita tahu apakah kita akan menyandang profesi guru atau tidak. Sedangkan karakter, karakter dapat dibentuk oleh seseorang dengan bantuan orang lain, dan lingkungan yang mendukung. Sifat adalah bawaan lahir yang sudah terbentuk. Sedangkan karakter dapat kita ciptakan sendiri melalui proses yang sedemikian rupa sehingga menghasilkan pribadi-pribadi yang mungkin bisa sedikit merubah sifat buruk seseorang.

Okeey lupakan soal sifat dan karakter, kembali ke focus kita, yaitu Guru. Tentunya tidak semua orang yang menjadi guru karena panggilan hati mereka yang benar-benar tulus ingin mencerdaskan anak bangsa dan membangun karakter nasionalis sehingga dapat menjadi generasi emasnya Indonesia. Namun dibalik profesi yang mereka sandang, ternyata ada banyak cerita yang sekiranya dapat membuka pikiran dan hati kalian.
Ini adalah sedikit kisahku mengenai Guru. Aku, sangat-sangat berterimakasih padaNya, rasa syukur ini selalu terpanjat atas nikmatNya. Bukan lagi soal aku mendapat uang, bukan juga karena memiliki kekasih yang baiknya luar biasa. Melainkan karena mereka yang selalu sabar dalam membimbingku. Entah harus darimana aku memulai cerita ini. Memulai bagaimana menceritakan perjuangan mereka, beban mereka, ketegangan mereka, air mata mereka, kesabarn, ketulusan, dan juga kebahagian.
Yang jelas ini soal guru yang ternyata benar sedikit merubah kehidupanku lebih baik. ‘Kata mereka’. Tidak ada yang ingin kusampaikan selain kata maaf dan terimakasih untuk mereka.

Di salah satu sudut lantai dua, cahayanya begitu terang. Tidak, ini bukan lagi terang, tapi sedikit terik dan menyentuh kulit meski memakai lengan panjang. Pukul 12.20 tepatnya, diruangan yang cukup bersih ini aku mulai memanggil nama mereka satu-persatu. Barisan depan terisih penuh, anak-anaknya pendiam, manut dan mau mendengarkan. Sebagian sibuk dengan dunianya sendiri. Ada yang asik bergosip, asik main handphone, dan ada yang berebut bangku. Bahkan berebut AC. Suaraku ini terdengar lantang meski mereka ribut sendiri. Maklum saja, anak Pantura. Dan teman-temanku sudah paham, tak jarang sering dibilang mau berantem ketika berbicara. Tidak juga ah, terkadang aku bisa menjadi wanita yang lembut dan sabar juga.

Memberi salam, menanyakan kabar mereka, menyampaikan materi dan lainya adalah kewajibanku di semester tua ini. Maklum saja, namanya juga PKM ( Praktek Keterampilan mengajar ). Menjadi mahasiswa semester akhir memang menarik, sesekali rasanya ingin berteriak. Mengajar, kuliah, persiapan skripsi, dan juga pekerjaan freelance ku membuat sesak nafas. Kata anak jaman sekarang, kurang piknik. Kesibukan dan uang anak kost yang pas-pasan bukan untuk berhura-hura kesana kemari, jeprat-jepret foto lalu di posting di medsos. Tapi pada kenyataannya memang banyak yang seperti itu juga.

Aku menikmatinya, meski kadang sesekali aku mengeluh juga. Sejujurnya, tak terlintas sedikitpun dariku untuk menjadi seorang guru. Dulu cita-citaku banyak, aku ingin menjadi penulis novel sekaligus penulis naskah film, Jurnalis, Presenter, pernah juga berpikiran untuk menjadi Desaigner, atau wanita karir yang bekerja di gedung-gedung megah di Jakarta. Dambaanku memakai pakaian kantor yang manis dan menawan tidak ada lagi di pikiranku.  

Kini aku memakai seragam yang sangat rapi dan sopan, bahkan tertutup. Sungguh karunia Allah SWT. Di pertengahan tahun 2016 aku mengajar di salah satu SMP Negeri di Jakarta sebagai guru magang. Bukan main, mengajar SISWA Jakarta adalah tantangan yang luar biasa. Aku mendapat kelas  8A dan 8B. Dua kelas yang tergolong masih gampang diatur kata guru-guru yang mengajar di SMP tersebut. Awal yang manis dan menenangkan, ternyata memang benar adanya bahwa mereka adalah siswa yang anteng dan mudah dikendalikan. Aku belum kerepotan sama sekali. Mereka mau mendengarkanku dan memperhatikanku selayaknya murid yang menghormati gurunya.

Keadaan dan suasana seperti ini ternyata tidak berjalan lama. Sungguh menarik, terkadang aku menjadi kesempatan mereka untuk mendapatkan free class atau tidak mau belajar. Sungguh rasanya hati ini seperti tersayat, ketika mendengar mereka berkata tidak mau belajar. Ternyata, setiap ada guru magang, siswa memang selalu berlaku seperti itu. Mereka menganggap guru magang pasti akan selalu lebih asyik dari guru-guru pamong. Bahkan menganggapnya seperti teman bagi mereka, tempat berbagi cerita dan bercanda.

Tentu saja aku tak pernah membiarkan hal ini terjadi, saat dalam pembelajaran aku akan bersikap seperti guru. Mencoba tegas dan membimbing, namun jika kita bertemu diluar kelas, kita tentu bisa menjadi teman yang bisa diajak berbagi cerita untuk mereka. aku tidak ingin waktu empat bulanku terasa sia-sia jika hanya terus mengikuti keinginan mereka. Jujur sjaa, mereka adalah anak yang lucu, pintar dan baik sebenarnya. Hanya saja, terkadang mereka merasa bosan dengan aktivitas belajar yang seperti itu-itu saja. Hampir semua siswa mengatakan bahwa mereka bosan dengan cara pengajaran guru-guru yang telah berpengalaman mengajar disana. Belum lagi ditambah aktivitas mereka diluar sekolah, yaitu mengikuti bimbingan belajar dan les-les yang lainnya. Hal ini membuat mereka merasa terkekang dengan keadaan yang mengharuskan mereka terus-terusan belajar.

Keadaan tersebut membuat mereka melampiaskannya pada guru-guru magang. Tak heran jika mereka selalau minta free class. Jadi beginilah rasanya menjadi ibu dari 70 anak. Sejujurnya aku tak ingin mengeluh, hanya saja terkadang sikap mereka membuatku stres bekepanjangan. Mulai dari tidak memperhatikanku saat menyampaikan materi, bermain sendiri, mengobrol dan lainnya. Walaupun memang masih banayak juga siswa yang serius mengikuti pelajaran. Ini membuatku merasa sakit. Sempat aku bertanya, apakah aku yang salah atau mereka yang salah ? tentu saja ini menjadi tanggung jawab kita semua sebagai orang tua dari siswa.

Jika aku yang tidak sabar, maka siapa lagi, jika aku yang tidak tulus, maka siapa lagi ? siapa lagi yang akan menciptakan profesi-profesi lainnya jika tidak ada pahlawan ini ? keikhlasan dan ketulusan begitu tercurahkan untuk mereka, rasa kesal dan amarah sungguh akan meredam hanya dengan sekali melihat mereka tersenyum dan memanggil sebutan “Ibu”. Aku sungguh memahami anak-anak didikku, alasan mereka rajin belajar, alasan mereka yang malas belajar, dan alasan mereka yang terkesan menyepelekan. Sungguh aku akan memahaminya, aku tak akan ambil hati jika ada perkataan tak sopan yang mereka lontarkan. Karena sebetulnya mereka belum mengerti dan dewasa untuk menyadarinya.

Aku sudah cukup sayang dengan mereka, begitu pula sebaliknya. Kelopak mataku seperti menahan bulir air mata, rasanya ingin jatuh ketika pelepasan magang berlangsung yang juga bertepatan dengan perayaan hari guru. Mereka bermuka sendu, memelukku dan mengucapkan terimakasih juga maaf. Memberiku kado perpisahan dan juga bunga. Empat bulan itu aku memang berusaha menjadi ibu mereka yang sabar. Bahkan sempat semua muridku menasihatiku supaya menjadi guru yang bisa marah di kelas jika rebut.
Sejujurnya, aku adalah tipe orang yang suka marah dan agak kurang sabaran. Namun, jika sudah di dalam kelas, seolah-olah hati ini menjadi lembut dan tak ingin menyakiti siapapun. Aku luluh dihadapan mereka. dihadapan anak-anakku yang sedang menuntut ilmu. Aku menyebutnya generasi emasku. Karena aku ingin mereka tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang berkarakter dan berkompeten.

Beginilah ceritaku dalam pengalaman mengajar selama empat bulan. Pengalaman adalah momen penting yang bisa dijadikan sebagai pelajaran hidup. Jika salah di masa lalu, maka akan diperbaiki di masa akan datang. Jika sudah benar di masa lalu, maka tataplah pertahankan dan jadikan sebagai motivasi untuk lebih baik lagi dari masa lalau. Pengalaman mengajar adalah yang tebaik bagi diriku. Banyak kenangan yang mungkin takan beranjak dari ingatanku. Cerita suka dan duka adalah dua rasa yang paling nikmat dalam hidup ini.

Pada dasarnya, hidup bukan hanya sekedar ingin diberi, melainkan juga bagaimana kita memberi. Bukan hanya tuntutan belaka yang kita minta pada Tuhan, tetapi  bagaimana kita mensyukuri dan berbagi karena kita telah diberi oleh kenikmatan oleh Tuhan. Aku adalah seorang yang diberi kelebihan, aku belajar di perguruan tinggi bukan hanya untuk sekedar memuaskan hidupku dan menaikan derajat sosialku saja. Namun, aku patut mensyukuri apa yang telah diberikan Allah kepadaku. Aku tak seharusnya lupa dan menjadi kalap, aku menjadi perantara dari Allah untuk membagikan ilmu dan pengetahuanku pada mereka.

Semoga ceritaku ini bisa menjadi cerita yang menginspirasi. Setidaknya mengajarkan kita untuk selalu bersyukur, ikhlas, dan sabar dalam menjalani hidup ini.

Terimakasih untuk anak-anakku, untuk guru-guru dan dosen yang telah membimbingku, dan juga keluargaku yang selalu mensuportku serta teman dan sahabat yang selalu bersama-sama dalam berjuang dan saling memberi semangat. 

Senin, 24 Oktober 2016

KKN (Kuliah Kerja N....)

KKN (KULIAH KERJA N. . . )
Nb : Isi sendiri N-nya wkwwkwwk

Kuliah Kerja Nyata (KKN), adalah suatu program dari Perguruan Tinggi melalui Unit LPM (Lembaga Pengabdian Masyarakat) yang menerjunkan mahasiswanya untuk bertindak nyata dalam masyarakat sesuai dengan salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu, melakukan pengabdian terhadap masyarakat Indonesia.  Dalam program KKN ini, mahasiswa yang sudah mengambil mata kuliah diatas 100 sks wajib melaksanakan program kerja dalam bentuk pengabdian untuk masyarakat selama 30 hari. Masyarakat dalam hal ini adalah masyarakat yang memang benar-benar membutuhkan uluran tangan kita untuk menjadikan desa ataupun masyarakatnya lebih positif.  Universitas Negeri Jakarta (UNJ) adalah perguruan tinggi negeri yang biasanya menerjunkan mahasiswa KKNnya di daerah Banten, Purwakarta, Subang, Bogor, dan Suka Bumi. Di daerah ini kemudian dipilih lagi desa mana yang tepat untuk menjadi sasaran dari program KKN ini. Tentunya, pihak unit LPM akan memilihkan daerah yang mungkin bisa dibilang daerah yang tertinggal dari daerah lainnya.

Awal tahun 2016 ini bisa dibilang tahun yang cukup menantang untuk formulaan di bulan pertama. Inilah tahun yang benar-benar membuatku merasa menjadi orang yang seharusnya selalu bersyukur terhadap sang pencipta. Yaa, “KKN” inilah yang membuatku menjadi semakin melek terhadap hidupku sendiri, orang lain, dan bangsa ini. jika dijelaskan, mungkin akan menjadi Luas sama dengan panjang kali lebar. Pengalaman yang bisa jadi hanya kali ini saja aku merasakannya.
Pengalamanku selama ini  yaa seperti mahasiswa lainnya, terkadang bisa jadi kupu-kupu (kuliah-pulang), kuda (kuliah-dagang), kura-kura (kuliah-rapat), dan juga kunang-kunang (kuliah-nangkring). Namun kali ini sedikit berbeda, sepertinya akan ada hari-hari yang lumayan sulit selama 30 hari kedepan di bulan pertama tahun 2016 ini. yaa, “Pengabdian”.

Ternyata, selama dua puluh tahun lebih sebelum usia ku bertambah angka 1, aku hanya sibuk dengan diriku sendiri. Betapa sibuknya aku memikirkan masa depanku saja, memikirkan kapan aku akan memilih calon imamku, dan kapan aku akan memiliki keturunan yang lebih baik dariku. Aahaaayyy…. Jiwa yang masih muda ini terlalu sombong rupanya, terlalu keras kepala, dan tak mau peduli. Mengapa juga aku tak pernah memikirkan mereka, sedikit tak peduli dengan bangsa yang katanya sudah merdeka setengah abad lebih.

Oke, kembali lagi soal Pengabdian. 16 Januari 2016 lalu, aku dan 29 orang lainnya dengan bangga mengenakan jaket berwarna hijau agak tua. Pukul 12.00 siang, kami tiba di Desa Sirnagalih, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Tentu saja kami merasa senang, berfoto ria, selfie yang katanya biar kekinian. Bagaimana kami tidak merasa senang, ini desa yang sangat bersih yang pernah aku lihat. Udaranya berbalik seratus delapan puluh derajat dari udara di Ibu Kota. Jelas saja, sudah sesiang ini udaranya masih terasa sejuk dan segar. Mata kami juga dimanjakan dengan panorama yang begitu asri, melihat gunung dan perbukitan sedekat ini jarang sekali aku lakukan. Beruntunglah aku mendapat daerah untuk KKN yang ternyata sebuah desa yang diapit oleh tiga gunung, yaitu gunung pulo sari, gunung Aseupan, dan Gunung Karang. Dalam hati ini ya hanya memikirkan indah-indah saja, beruntungnya kami mendapat daerah seindah ini yang juga menjadi point plus untuk liburan kami sebulan kedepan.

Pagi Sirnagalih yang Indah ini, sebulan kedepan aku akan menyapamu dengan senyum yang ikhlas, menyapa embun pagi dan kamu yang hijau terbentang. Bermain dengan kupu-kupu dalam warna-warni bunga segar. Bagaimanapun juga aku akan menjadi sahabatmu, juga menjadi sahabat angin yang sejuk di siang hari, dan angin yang dingin di malam hari.

Minggu, 17 Januari 2016, sedikit demi sedikit aku ingin mengenal mereka. Masyarakat Sirnagalih yang begitu ramah dan baik hati sudah menerima kami para pemuda yang agak tengil. Karena kerja kami belum mulai, dan baru akan dimulai senin besok, aku dan yang lain menyusuri sepanjang jalan utama Kecamatan Mandalawangi. Sepanjang jalan, kami terus saja mendapat salam sapa dan senyum yang begitu ramah oleh  anak-anak kecil, “ kakak, kakak” yaa itulah respon mereka ketika melihat kami berada di desa ini. aku bahkan bingung mengapa meraka sangat antusias kepada kami. Tiba-tiba menghampiri kami, dan langsung menjadi akrab dengan kami. Sudah berani berinteraksi dengan fisik, anak-anak ini senang menggandeng tangan kami, dan memeluk kami.

Pun dengan orang-orang dewasanya, mereka juga sangat ramah dan selalu ingin berjabat tangan dengan kami. Mengajak kami mampir ke rumahnya. Tapi sepanjang kami jalan, aku belum melihat anak-anak muda disini apalagi melihat perempuan sebaya kami. Di Desa ini lebih dominan dengan orang tua dan anak-anak kecil saja. Rasa penasaran ini akhirnya aku tanyakan pada Ibu Uum, Ibu yang kebetulan adik dari ibu yang rumahnya menjadi homestay kami. Bu Uum mengatakan, bahwa disini para pemuda dan pemudinya kebanyakan menjadi perantau di Ibu Kota. Mereka biasanya pulang hanya waktu-waktu tertentu saja, misalnya ketika hari Raya Idul Fitri. Ketika lulus SD ataupun SMP, kebanyakan mereka lebih memilih untuk bekerja ketimbang melanjutkan sekolah dengan alasan tidak adanya dukungan financial untuk pendidikan.

Satu hari, dua hari, tiga hari, aku sudah mulai agak faham dengan kultur disini. 17 Januari 2016, kami sudah mulai harus bergerak menyelesaikan program kerja kami. Hari pertama, belum terlalu sibuk, kami masih menganalisis kebutuhan apa yang cocok untuk Desa Sirnagalih ini. namun yang jelas kita punya tiga Program yang wajib kita lakukan disini. Untuk yang Jurusannya berlatar belakang Pendidikan kami harus mengajar di sekolah. Karena ada 18 orang yang latar belakangnya pendidikan, akhirnya 18 orang orang tersebut dibagi untuk menjadi pengajar di SDN Sirnagalaih. Jumlah SD di Desa ini ada tiga, yaitu SD Sirnagalih 1 di kampung Sirnagalih, SDN Sirnagalih 2 di Kampung Sirnagalih, dan SDN Sirnagalih 3 di Kampung Kadu Kaso. Akhirnya enam orang harus mengisi satu sekolah.

Dan yaaapp, aku ternyata kebagian mengajar di SDN Sirnagalih 3 di Kampung Kadu Kaso. Dan bisa dikatakan, aku mendapat Sekolah yang katanya masih jauh kualitasnya dari sekolah-sekolah lain di Kecamatan Mandalawangi. Ini menjadi tantangan tersendiri untuk kami. Bahkan untuk menuju SD ini, kami harus melewati beberapa kampung dengan perjalanan yang cukup jauh dan menanjak, jalanannya juga tidak terlalu bagus. Terkadang kita harus becek-becekan ketika malamnya hujan. Kami tak mau ambil pusing, ini hanya masalah kecil jika kami melakukannya dengan ikhlas dan senyum bersama dengan teman seperjuangan. Untuk mengganti rasa lelah ini, kami tak hentinya mengeluarkan banyolan-banyolan yang mungkin bagi orang lain tidak penting tapi bagi kami, candaan dan tawa dari teman-temanlah yang membuat langkah ini tidak begitu melelahkan.

Dan lagi, ketika kami mengajar, tawa dan wajah anak-anak kami yang antusias menimba ilmu juga menjadi obat lelah kami. Namun sayang seribu sayang, aku merasa ada yang tidak adil bagi mereka. Anak-anak yang masih polos dan seharusnya mendapatkan pendidikan yang layak justeru sangat jauh dari kata beruntung. Entahlah, harus dari mana dulu aku menjelaskannya. Ruangan ini sudah tua, pintunya juga tidak bisa ditutup, papan tulisnya tidak seputih selayaknya whiteboard, ada lemari kecil tapi tak ada pintunya, agak sedikit berdebu dengan tumpukan buku yang warnanya sudah kekuningan, kusut dan lusuh. Di sudut belakang ada bangku dan meja yang sudah patah-patah. Dinding yang agak retak-retak, dan atap yang bocor kalau sedang hujan. Tidak ada media untuk belajar di ruang kelas ini. Aku bahkan sempat negative melihatnya, ini bukan seperti ruangan untuk belajar.

Aku menikmati hari-hariku di sekolah ini, melihat mereka selalu menyambut kedatangan kami dengan suka cita. Pagi ini, sudah ada sarapan rupanya di meja kantor. Ibu Entat yang baik hati sengaja menyiapkannya untuk kami. Begitulah setiap pagi kami mengajar. Ibu yang satu ini selalu perhatian pada kami, selalu mengajak kami makan bersama dan main ke rumahnya. Ada sedikit perbincangan singkat antara kami, “kita, guru-guru disini sudah mengajukan minta bantuan untuk memperbaiki sekolah ini. kami sudah berusaha dari beberapa tahun yang lalu, namun belum ada upaya dari pemerintah untuk sekolah ini”. 

“bagaimana tidak, anak-anak disini juga secara kualitas masih kurang dari SD lainnya. Mengingat sarana dan prasarana juga tidak memadai untuk menunjang anak-anak kita belajar”, (ujar bapak safrudin selaku guru mata pelajaran Agama Islam). Pun sama dengan teman-teman yang juga mengajar di SDN Sirnagalih 1 dan 2, mereka juga merasakan bahwa SDN tempat mereka mengajar masih jauh kualitasnya dengan daerah lain. Dan masalah minimnya sarana prasarana juga yang kemungkinan menghambat kualitas pendidikan mereka. Ini dia satu masalah dan satu kebutuhan yang akhirnya aku temukan di Desa Sirnagalih. Pendidikan, pendidikan adalah yang menjadi kebutuhan masyarakat desa Sirnagalih. Namun sepertinya masyarakat Desa ini kurang menyadarinya bahwa sebetulnya pendidikan lah yang mereka butuhkan.

Rabu, 28 Januari 2016, kami mahasiswa KKN diminta untuk menjadi panitia dan peserta Musrenbang Desa Sirnagalih (Musyawarah dan Rencana Pembangunan Desa). Karena bertepatan dengan jadwal mengajarku, aku putuskan ikut Musrenbang setelah jam pelajaran pertama selesai, aku dan teman-teman yang mengajar di SDN Sirnagalih 3 meminta izin untuk menyusul Ke Musrenbang. Acara sudah berlangsung setengah agenda. Aku coba untuk mendengarkan dan menganalisis apa yang mereka musyawaratkan. Di barisan duduk paling depan ada aparatur desa, dan Ketua kecamatan yang memimpin Musyawarah ini.

Sepanjang pembahasan, sedikitpun aku tak mendengar mereka menyinggung masalah pendidikan. Mereka hanya focus pada masalah perbaikan jalan, irigasi, dan kegiatan PKK lainnya. Apa mungkin pendidikan bukanlah menjadi hal prioritas bagi pembangunan Desa ini?

Sepanjang kita mengajar di sekolah dan mengajari mereka di bimbingan belajar diluar sekolah, memanga ada sedikit yang membuat kita merasa miris. Anak-anak itu sungguh lucu, tulus dan juga polos. Namun sayang secara pengetahuan, mereka masih tertinggal jauh dengan pendidikan di desa-desa lainnya. Secara kualitas bisa dibilang masih kurang. Untuk ukuran siswa kelas 3 ataupun 4 SD, semestinya mereka sudah lancer membaca, menulis, dan berhitung. Namun pada kenyataannya tidak untuk desa Sirnagalih ini. Menurutku, ini bukan hal yang sepele. Ini menyangkut dengan masalah Sumber Daya Manusia Indonesia. Pasalnya, mereka juga jarang sekali ada yang melanjutkan sekolah ketingkat yang lebih tinggi lagi. Mereka lebih memilih menjadi asisten rumah tangga, ataupun pelayan toko di Jakarta setelah tamat SD atau SMP.

Pendidikan adalah salah satu modal dalam pembangunan bangsa ini, untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas maka manusia harus terus belajar. Memang ada beberapa yang bilang bahwa hakikatnya, belajar tidak harus dengan menempuh pendidikan yang tinggi. Namun beda lagi konteksnya jika membicarakan perspektif pendidikan dalam pembangunan suatu Negara. Masyarakat akan banyak memperoleh ilmu dan pengetahuannya ketika mereka harus duduk bertahun-tahun di bangku sekolah. Mereka balajar dari hal yang paling dasar dan sederhana hingga hal yang lebih kompleks lagi. Pengalaman mereka selama itu adalah modal untuk dapat menjadi seseorang yang berdaya saing.

Olehkarenanya, inilah yang ingin aku dan teman-teman yang lain mengabdikan diri yang katanya merupakan kaum akademisi dan intelek. Yang “katanya” juga merupakan generasi penerus dalam memajukan bangsa. Aku tidak mau terlalu muluk-muluk, aku hanya ingin mereka bisa menjadi anak-anak cerdas generasi emas tahun-tahun berikutnya. Desa Sirnagalih ini merupakan desa yang bisa dibilang potensial juga secara geografis. Jika anak-anak ini memang terlahir sebagai generasi Emas, maka meraka dapat membawa Desa yang berpotensi ini lebih layak lagi dalam berbagai aspek kehidupan. Baik dari segi ekonomi, sosial, budaya, dan politik serta aspek-aspek kehidupan lainnya.

Kesempatan mengajar selama satu bulan mengajar ini takkan aku sia-siakan begitu saja. Awalnya sempat bingung juga, apa yang harus aku berikan untuk anak-anakku di desa ini. rasanya tidaka kan cukup jika aku hanya member mereka pengajaran saja. Aku butuh sesuatu yang lebih untuk membuat mereka labih semangat bersekolah dan mau mengejar prestasi sebagai hasil belajar mereka selama ini.

“Motivasi” yaa, ini sepertinya akan menjadi tepat bagi mereka untuk dapat menjadi generasi emas yang membanggakan. Jika dilihat, selama ini guru-guru yang mengajar di SDN Sirnagalih sepertinya terlalu focus dalam pembelajaran dengan model teacher center. Gaya belajar mereka harus sedikit diubah rupanya. Aku disini mencoba sotoy, bukan maksudku ingin mendahului para guru disini. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak ku. Inilah caraku sendiri dalam membimbing mereka, bisa dibilang ini pengalaman pertamaku mengajar di sekolah formal. Dengan ilmu dan pengetahuan yang belum terlalu matang mungkin, aku mencoba merangkul mereka selayaknya seorang ibu yang ingin membesarkan anaknya dengan baik.

Sederhana saja, setiap masuk kelas aku pasti selalu menanyakan kabar mereka satu persatu ketika aku sedang memeriksa daftar hadir. Aku juga selalu bertanya apakah mereka sudah paham dan mengerti dengan materi pelajaran yang aku sampaikan. Jika belum, aku pasti akan mengulanginya sampai mereka benar-benar paham. Butuh kesabaran memang, karena anak-anak ku ini bukan anak-anak yang seperti siswa di perkotaan. Belum lagi ketika ada anak-anak cowok yang terus saja rebut berebut pulpen atau apapun. Dan lagi, aku juga harus paham dengan ekspresi wajah mereka ketika sedang bosan. Tentu saja aku harus melakukan sesuatu, mengajaknya bermain sambil belajar adalah salah satu cara untuk menghapus kebosanan mereka. Dengan begitu mereka akan kembali tersenyum dan kembali bersemangat lagi untuk belajar.

Aku senang bisa melakukan ini bersama mereka, senyum kecil dari mereka saja sudah membuat hati ini lega, dan juga mengurangi detak jantung yang sangat kencang ketika pertama kali bertemu mereka. Ada salah satu anakku yang nyeletuk begini “ kakak, kakak disini saja ya, aku kalo gede mau jadi kayak kaka biar pintar” aku menatap wajah polosnya yang sedari tadi terus memandangiku. “ okay, tos dulu doong. Tapi Kakak nanti mau pulang dulu ke Jakarta biar kaka jadi orang pintar juga. Kalo ada kesempatan, kakak nanti belajar dan main lagi bareng kalian ya”

Dua minggu sudah aku bersama anak-anak desa Sirnagalih, mereka menyenangkan, terlebih aku juga tidak punya adik yang selalu menggelendotiku. Jadi ketika mereka melakukan itu padaku, aku anggap saja mereka seperti adik atau anakku sendiri. Kapan punya suaminya?? Hixhix walaupun terkadang, mereka sering membuatku kerepotan. Setiap hari mereka selalu datang ke homestay kami. Memang, kita membuka jam belajar diluar belajar di sekolah. Kami sudah membuat jadwal untuk mereka, namun tetap saja mereka selalu datang meskipun bukan hari dijadwal mereka belajar. Terkadang hal ini yang membuat aku dan teman-teman sedikit meresa jengkel, karena waktu istirahat kami sedikit terganggu. Tapi bagaimanapun juga, kami selalu membuka pintu ini untuk mereka, tetap saja kami tidak tega dan ingin belajar bersama mereka.

Selama dua minggu ini, sudah banyak program kerja yang kami jalankan di desa yang indah sejuk, dan santri ini. program selain mengajar ini adalah gotong royong, pembuatan plang untuk penunjuk arah jalan, dan terakhir adalah kami mengadakan acara festival Islamic untuk Desa Sirnagalih.

Gotong royong ini dilakukan, karena desa ini memang bersih, namun mereka masih belum menyadari bagaimana menjaga lingkungan dan emmanfaatkan limbah. Olehkarenanya kami melkasanakan gotong royong atau kerja bakti dengan maksud untuk mensosialisasikan kebersihan lingkungan. Karena pada umumnya Desa Sirnagalih ini selalu membuang sampah dengan cara dibakar, maka jarang sekali setiap rumah memiliki tong sampah, akhirnya kami mensosialisasikan pada mereka untuk memilah dan memilih sampah mana yang perlu dibakar dan mana yang masih bisa didaya gunakan. Sosialisasinya adalah, pertama kami membersihkan lingkungan sekitar terlebih dahulu, pada kerja bakti ini kami memisahkan sampah yang bersifat organic dan anorganik. Terutama jenis sampah yang bersifat botol, kami kumpulkan menjadi satu untuk didayagunakan pada bank sampah. Dengan begitu, hal ini dapat menjadi nilai tambah bagi pendapatan Desa Siranagalih.

Plang, Plang ini merupakan salah satu program kerja kami yang berkaitan dengan tata ruang Desa ini, gagasan untuk membuat plang penunjuk arah jalan ataupun denah lokasi ini berawal dari ketidaktahuan kami mengenai batas-batas antar kampung di Desa Sirnagalih ini. dan juga, Plang ini untuk mempermudah dan memperjelas mayarakat setempat ataupun masyarakat pendatang yang kebingungan ketika mereka mencari suatu tempat yang akan didatangi. Respon wrga mengenai pemasangan plang ini juga menunjukan reaksi baaik. Mereka sangat senang dengan adanya pembaharuan di desanya. Pemasangan plang ini tidak terlalu membutuhkan banyak panitia. Hanya dikerjakan oleh mahasiswa cowok. Mereka terlihat antusias dan juga semangat. Meski ketika memasang plang ini tiba-tiba hujan mengguyur mereka, namun mereka tetap tersenyum bersama dan tanpa ada perasaan berat hati serta tak dengar suara mengeluh mereka. Aku senang bisa memiliki mereka yang selalu ikhlas dalam bekerja. Keluarga baru yang begitu humble dan periang. Beruntung sekali bisa dipertemukan dengan mereka.

Dan akhirnya kami sudah hamper pada penghujung KKN. H-4 sebelum kami meninggalkan desa yang sangat ramah ini, kami menyelenggarakan acara festival Islamic Desa Sirnagalih. Persiapan festival ini sudah berlangsung satu minggu yang lalu. Bukan tanpa alasan kami menyelenggarakan acara ini. desa sirnagalih adalah desa yang religious, budaya keislaman di desa ini sangatlah kental. Mulai dari budaya mengaji saat masih usia dini, pengajaian ibu, pengajian bapak-bapak, Qasidah, dan juga acara-acara keislaman yang selalu mereka peringati. Oleh sebab itulah kami menyuguhkan acara dimana masyarakat dapat menikmati sebuah festival dimana nuansa festival ini sesuai dengan budaya mereka yang sangat islami.

Konten acara pada festival Islamic ini diantaranya, kami mengadakan lomba adzan untuk anak-anak, lomba hafidz untuk anak-anak, dan lomba qasidah untuk umum. Rangkaian acara berlangsung selama dua hari sebelum kepulangan. Acara ini menjadi acara penutup sekaligus perpisahan kami bersama warga desa Sirnagalih. Partisipasi warga patut diacungi jempol, kami tidak sia-sia menyelenggarakan acara ini. pasalnya mereka sangat antusias dalam mengikuti lomba. Kompetisi ini menurut mereka, adalah salah satu batu loncatan bagi anak-anak untuk tetap bersemangat dalam mengaji dan terus belajar meningkatkan kualitas diri dalam keimanannya. Dan juga, kompetisi ini membuat masyarakat menjadi bisa silahtuhrahmi antar kampung/rt/rw. Mereka mengatakan kepuasaanya dalam festival Islamic ini, kita bisa tertawa bersama, berjuang bersama dan berbagi. Meski sempat hujan sebentar, kami tidak terlalu memperdulikannya. Ini bukan masalah yang besar bagi panitia dan warga. Kami masih bisa menikmati acara yang semakin menarik ketika ada salah satu regu qasidah yang sungguh spektakuler menampilkan qasidahnya. Sampai-sampai, ibu dari pak Lurah memberikan sawer. Penonton jadi semakin tertawa. Mahasiswa senang, warga pun senag heeehehee.

Banyak sekali cerita yang kita tulis disini. Di ruang dan dalam waktu yang ternyata cukup singkat. Pengalaman luar biasa tak akan bisa kamu miliki jika kamu hanya diam dan tak melakukan apa-apa. “ Magic is something you make” mungkin, yang aku dan teman-temanku lakukan ini tidaklah begitu besar. Bahkan aku masih merasa bahwa kami tidak melakukan apa-apa untuk mereka. Masih banyak kekurangan dari tangan-tangan yang lebih sering manja ini. kami masih sangat egois, justeru kamilah yang mendapat banyak sesuatu dari mereka. Namun apapun itu, setidaknya aku merasa lega ternyata aku bisa menjadi seseorang yang pernah hadir dalam hidup mereka juga. Setidaknya aku bisa membuat anak-anak itu tersenyum, membuat masyarakat tersenyum. Bukankah itu juga merupakan ibadah ?  Pengalaman dan pelajaran yang mungkin tidak kami temukan di rumah sendiri, di ruang kelas ataupun di tempat lain. Bagaimana kita menghargai orang lain, menerima kekurangan, berbagi, dan mungkin sampai harus rela berkorban. Dan lebih banyak lagi perasaan-perasan yang mungkin tidak bisa disampaikan.

“APAPUN PROFESIMU, DIMANAPUN KAMU BERADA, TIDAK ADA ALASAN BAGI KAMU UNTUK TIDAK BERBAGI DAN MENYEBARKAN KEBAIKAN”“HIDUP ITU HARUS BERMANFAAT, SELEBIHNYA TUHAN YANG AKAN MEMBALAS”