GURU
Guru, di gugu
dan ditiru. Begitulah orang beranggapan tentang profesi yang satu ini. Dalam
dialek jawa, digugu berarti diperhatikan, dan ditiru sudah pasti melakukan
sesuatu sama seperti yang telah
diperhatikan. Dua kata ini seolah-olah tidak mengandung makna yang negatif,
bahkan menjadi kata super yang menurutku sendiri agak sensitif. Bagaimana
tidak, dari maknanya kita beranggapan bahwa seorang guru adalah menjadi teladan
yang seharusnya diperhatikan dan ditiru. Jika salah sedikit saja, mungkin akan
ada banyak orang yang protes dan menaruh ketidakpercayaan.
Lalu apakah
digugu dan ditiru itu sudah ada pada semua guru ? jawabannya, bisa ditanyakan
pada hati kalian masing-masing. Sifat dan tabiat seseorang itu sudah dilakukan sebelum kita tahu apakah
kita akan menyandang profesi guru atau tidak. Sedangkan karakter, karakter
dapat dibentuk oleh seseorang dengan bantuan orang lain, dan lingkungan yang
mendukung. Sifat adalah bawaan lahir yang sudah terbentuk. Sedangkan karakter
dapat kita ciptakan sendiri melalui proses yang sedemikian rupa sehingga
menghasilkan pribadi-pribadi yang mungkin bisa sedikit merubah sifat buruk
seseorang.
Okeey lupakan
soal sifat dan karakter, kembali ke focus kita, yaitu Guru. Tentunya tidak
semua orang yang menjadi guru karena panggilan hati mereka yang benar-benar
tulus ingin mencerdaskan anak bangsa dan membangun karakter nasionalis sehingga
dapat menjadi generasi emasnya Indonesia. Namun dibalik profesi yang mereka
sandang, ternyata ada banyak cerita yang sekiranya dapat membuka pikiran dan
hati kalian.
Ini adalah
sedikit kisahku mengenai Guru. Aku, sangat-sangat berterimakasih padaNya, rasa
syukur ini selalu terpanjat atas nikmatNya. Bukan lagi soal aku mendapat uang,
bukan juga karena memiliki kekasih yang baiknya luar biasa. Melainkan karena
mereka yang selalu sabar dalam membimbingku. Entah harus darimana aku memulai
cerita ini. Memulai bagaimana menceritakan perjuangan mereka, beban mereka,
ketegangan mereka, air mata mereka, kesabarn, ketulusan, dan juga kebahagian.
Yang jelas ini
soal guru yang ternyata benar sedikit merubah kehidupanku lebih baik. ‘Kata
mereka’. Tidak ada yang ingin kusampaikan selain kata maaf dan terimakasih
untuk mereka.
Di salah satu
sudut lantai dua, cahayanya begitu terang. Tidak, ini bukan lagi terang, tapi
sedikit terik dan menyentuh kulit meski memakai lengan panjang. Pukul 12.20
tepatnya, diruangan yang cukup bersih ini aku mulai memanggil nama mereka
satu-persatu. Barisan depan terisih penuh, anak-anaknya pendiam, manut dan mau
mendengarkan. Sebagian sibuk dengan dunianya sendiri. Ada yang asik bergosip,
asik main handphone, dan ada yang berebut bangku. Bahkan berebut AC. Suaraku
ini terdengar lantang meski mereka ribut sendiri. Maklum saja, anak Pantura.
Dan teman-temanku sudah paham, tak jarang sering dibilang mau berantem ketika
berbicara. Tidak juga ah, terkadang aku bisa menjadi wanita yang lembut dan
sabar juga.
Memberi salam,
menanyakan kabar mereka, menyampaikan materi dan lainya adalah kewajibanku di
semester tua ini. Maklum saja, namanya juga PKM ( Praktek Keterampilan mengajar
). Menjadi mahasiswa semester akhir memang menarik, sesekali rasanya ingin
berteriak. Mengajar, kuliah, persiapan skripsi, dan juga pekerjaan freelance ku
membuat sesak nafas. Kata anak jaman sekarang, kurang piknik. Kesibukan dan
uang anak kost yang pas-pasan bukan untuk berhura-hura kesana kemari,
jeprat-jepret foto lalu di posting di medsos. Tapi pada kenyataannya memang
banyak yang seperti itu juga.
Aku menikmatinya,
meski kadang sesekali aku mengeluh juga. Sejujurnya, tak terlintas sedikitpun
dariku untuk menjadi seorang guru. Dulu cita-citaku banyak, aku ingin menjadi
penulis novel sekaligus penulis naskah film, Jurnalis, Presenter, pernah juga
berpikiran untuk menjadi Desaigner, atau wanita karir yang bekerja di
gedung-gedung megah di Jakarta. Dambaanku memakai pakaian kantor yang manis dan
menawan tidak ada lagi di pikiranku.
Kini aku
memakai seragam yang sangat rapi dan sopan, bahkan tertutup. Sungguh karunia
Allah SWT. Di pertengahan tahun 2016 aku mengajar di salah satu SMP Negeri di
Jakarta sebagai guru magang. Bukan main, mengajar SISWA Jakarta adalah
tantangan yang luar biasa. Aku mendapat kelas
8A dan 8B. Dua kelas yang tergolong masih gampang diatur kata guru-guru
yang mengajar di SMP tersebut. Awal yang manis dan menenangkan, ternyata memang
benar adanya bahwa mereka adalah siswa yang anteng dan mudah dikendalikan. Aku
belum kerepotan sama sekali. Mereka mau mendengarkanku dan memperhatikanku selayaknya
murid yang menghormati gurunya.
Keadaan dan
suasana seperti ini ternyata tidak berjalan lama. Sungguh menarik, terkadang
aku menjadi kesempatan mereka untuk mendapatkan free class atau tidak mau
belajar. Sungguh rasanya hati ini seperti tersayat, ketika mendengar mereka
berkata tidak mau belajar. Ternyata, setiap ada guru magang, siswa memang
selalu berlaku seperti itu. Mereka menganggap guru magang pasti akan selalu
lebih asyik dari guru-guru pamong. Bahkan menganggapnya seperti teman bagi
mereka, tempat berbagi cerita dan bercanda.
Tentu saja aku
tak pernah membiarkan hal ini terjadi, saat dalam pembelajaran aku akan
bersikap seperti guru. Mencoba tegas dan membimbing, namun jika kita bertemu
diluar kelas, kita tentu bisa menjadi teman yang bisa diajak berbagi cerita
untuk mereka. aku tidak ingin waktu empat bulanku terasa sia-sia jika hanya
terus mengikuti keinginan mereka. Jujur sjaa, mereka adalah anak yang lucu,
pintar dan baik sebenarnya. Hanya saja, terkadang mereka merasa bosan dengan
aktivitas belajar yang seperti itu-itu saja. Hampir semua siswa mengatakan
bahwa mereka bosan dengan cara pengajaran guru-guru yang telah berpengalaman
mengajar disana. Belum lagi ditambah aktivitas mereka diluar sekolah, yaitu
mengikuti bimbingan belajar dan les-les yang lainnya. Hal ini membuat mereka
merasa terkekang dengan keadaan yang mengharuskan mereka terus-terusan belajar.
Keadaan
tersebut membuat mereka melampiaskannya pada guru-guru magang. Tak heran jika
mereka selalau minta free class. Jadi beginilah rasanya menjadi ibu dari 70
anak. Sejujurnya aku tak ingin mengeluh, hanya saja terkadang sikap mereka
membuatku stres bekepanjangan. Mulai dari tidak memperhatikanku saat
menyampaikan materi, bermain sendiri, mengobrol dan lainnya. Walaupun memang masih
banayak juga siswa yang serius mengikuti pelajaran. Ini membuatku merasa sakit.
Sempat aku bertanya, apakah aku yang salah atau mereka yang salah ? tentu saja
ini menjadi tanggung jawab kita semua sebagai orang tua dari siswa.
Jika aku yang tidak sabar, maka siapa lagi, jika aku
yang tidak tulus, maka siapa lagi ? siapa lagi yang akan menciptakan
profesi-profesi lainnya jika tidak ada pahlawan ini ? keikhlasan dan ketulusan
begitu tercurahkan untuk mereka, rasa kesal dan amarah sungguh akan meredam hanya
dengan sekali melihat mereka tersenyum dan memanggil sebutan “Ibu”. Aku sungguh
memahami anak-anak didikku, alasan mereka rajin belajar, alasan mereka yang
malas belajar, dan alasan mereka yang terkesan menyepelekan. Sungguh aku akan
memahaminya, aku tak akan ambil hati jika ada perkataan tak sopan yang mereka
lontarkan. Karena sebetulnya mereka belum mengerti dan dewasa untuk
menyadarinya.
Aku sudah cukup
sayang dengan mereka, begitu pula sebaliknya. Kelopak mataku seperti menahan
bulir air mata, rasanya ingin jatuh ketika pelepasan magang berlangsung yang
juga bertepatan dengan perayaan hari guru. Mereka bermuka sendu, memelukku dan
mengucapkan terimakasih juga maaf. Memberiku kado perpisahan dan juga bunga. Empat
bulan itu aku memang berusaha menjadi ibu mereka yang sabar. Bahkan sempat
semua muridku menasihatiku supaya menjadi guru yang bisa marah di kelas jika
rebut.
Sejujurnya, aku
adalah tipe orang yang suka marah dan agak kurang sabaran. Namun, jika sudah di
dalam kelas, seolah-olah hati ini menjadi lembut dan tak ingin menyakiti
siapapun. Aku luluh dihadapan mereka. dihadapan anak-anakku yang sedang
menuntut ilmu. Aku menyebutnya generasi emasku. Karena aku ingin mereka tumbuh
dan berkembang menjadi pribadi yang berkarakter dan berkompeten.
Beginilah
ceritaku dalam pengalaman mengajar selama empat bulan. Pengalaman adalah momen
penting yang bisa dijadikan sebagai pelajaran hidup. Jika salah di masa lalu,
maka akan diperbaiki di masa akan datang. Jika sudah benar di masa lalu, maka
tataplah pertahankan dan jadikan sebagai motivasi untuk lebih baik lagi dari
masa lalau. Pengalaman mengajar adalah yang tebaik bagi diriku. Banyak kenangan
yang mungkin takan beranjak dari ingatanku. Cerita suka dan duka adalah dua
rasa yang paling nikmat dalam hidup ini.
Pada dasarnya,
hidup bukan hanya sekedar ingin diberi, melainkan juga bagaimana kita memberi.
Bukan hanya tuntutan belaka yang kita minta pada Tuhan, tetapi bagaimana kita mensyukuri dan berbagi karena
kita telah diberi oleh kenikmatan oleh Tuhan. Aku adalah seorang yang diberi
kelebihan, aku belajar di perguruan tinggi bukan hanya untuk sekedar memuaskan
hidupku dan menaikan derajat sosialku saja. Namun, aku patut mensyukuri apa
yang telah diberikan Allah kepadaku. Aku tak seharusnya lupa dan menjadi kalap,
aku menjadi perantara dari Allah untuk membagikan ilmu dan pengetahuanku pada
mereka.
Semoga ceritaku
ini bisa menjadi cerita yang menginspirasi. Setidaknya mengajarkan kita untuk
selalu bersyukur, ikhlas, dan sabar dalam menjalani hidup ini.
Terimakasih
untuk anak-anakku, untuk guru-guru dan dosen yang telah membimbingku, dan juga
keluargaku yang selalu mensuportku serta teman dan sahabat yang selalu
bersama-sama dalam berjuang dan saling memberi semangat.