Jumat, 05 Mei 2017

GURU


GURU
Guru, di gugu dan ditiru. Begitulah orang beranggapan tentang profesi yang satu ini. Dalam dialek jawa, digugu berarti diperhatikan, dan ditiru sudah pasti melakukan sesuatu  sama seperti yang telah diperhatikan. Dua kata ini seolah-olah tidak mengandung makna yang negatif, bahkan menjadi kata super yang menurutku sendiri agak sensitif. Bagaimana tidak, dari maknanya kita beranggapan bahwa seorang guru adalah menjadi teladan yang seharusnya diperhatikan dan ditiru. Jika salah sedikit saja, mungkin akan ada banyak orang yang protes dan menaruh ketidakpercayaan.
Lalu apakah digugu dan ditiru itu sudah ada pada semua guru ? jawabannya, bisa ditanyakan pada hati kalian masing-masing. Sifat dan tabiat seseorang  itu sudah dilakukan sebelum kita tahu apakah kita akan menyandang profesi guru atau tidak. Sedangkan karakter, karakter dapat dibentuk oleh seseorang dengan bantuan orang lain, dan lingkungan yang mendukung. Sifat adalah bawaan lahir yang sudah terbentuk. Sedangkan karakter dapat kita ciptakan sendiri melalui proses yang sedemikian rupa sehingga menghasilkan pribadi-pribadi yang mungkin bisa sedikit merubah sifat buruk seseorang.

Okeey lupakan soal sifat dan karakter, kembali ke focus kita, yaitu Guru. Tentunya tidak semua orang yang menjadi guru karena panggilan hati mereka yang benar-benar tulus ingin mencerdaskan anak bangsa dan membangun karakter nasionalis sehingga dapat menjadi generasi emasnya Indonesia. Namun dibalik profesi yang mereka sandang, ternyata ada banyak cerita yang sekiranya dapat membuka pikiran dan hati kalian.
Ini adalah sedikit kisahku mengenai Guru. Aku, sangat-sangat berterimakasih padaNya, rasa syukur ini selalu terpanjat atas nikmatNya. Bukan lagi soal aku mendapat uang, bukan juga karena memiliki kekasih yang baiknya luar biasa. Melainkan karena mereka yang selalu sabar dalam membimbingku. Entah harus darimana aku memulai cerita ini. Memulai bagaimana menceritakan perjuangan mereka, beban mereka, ketegangan mereka, air mata mereka, kesabarn, ketulusan, dan juga kebahagian.
Yang jelas ini soal guru yang ternyata benar sedikit merubah kehidupanku lebih baik. ‘Kata mereka’. Tidak ada yang ingin kusampaikan selain kata maaf dan terimakasih untuk mereka.

Di salah satu sudut lantai dua, cahayanya begitu terang. Tidak, ini bukan lagi terang, tapi sedikit terik dan menyentuh kulit meski memakai lengan panjang. Pukul 12.20 tepatnya, diruangan yang cukup bersih ini aku mulai memanggil nama mereka satu-persatu. Barisan depan terisih penuh, anak-anaknya pendiam, manut dan mau mendengarkan. Sebagian sibuk dengan dunianya sendiri. Ada yang asik bergosip, asik main handphone, dan ada yang berebut bangku. Bahkan berebut AC. Suaraku ini terdengar lantang meski mereka ribut sendiri. Maklum saja, anak Pantura. Dan teman-temanku sudah paham, tak jarang sering dibilang mau berantem ketika berbicara. Tidak juga ah, terkadang aku bisa menjadi wanita yang lembut dan sabar juga.

Memberi salam, menanyakan kabar mereka, menyampaikan materi dan lainya adalah kewajibanku di semester tua ini. Maklum saja, namanya juga PKM ( Praktek Keterampilan mengajar ). Menjadi mahasiswa semester akhir memang menarik, sesekali rasanya ingin berteriak. Mengajar, kuliah, persiapan skripsi, dan juga pekerjaan freelance ku membuat sesak nafas. Kata anak jaman sekarang, kurang piknik. Kesibukan dan uang anak kost yang pas-pasan bukan untuk berhura-hura kesana kemari, jeprat-jepret foto lalu di posting di medsos. Tapi pada kenyataannya memang banyak yang seperti itu juga.

Aku menikmatinya, meski kadang sesekali aku mengeluh juga. Sejujurnya, tak terlintas sedikitpun dariku untuk menjadi seorang guru. Dulu cita-citaku banyak, aku ingin menjadi penulis novel sekaligus penulis naskah film, Jurnalis, Presenter, pernah juga berpikiran untuk menjadi Desaigner, atau wanita karir yang bekerja di gedung-gedung megah di Jakarta. Dambaanku memakai pakaian kantor yang manis dan menawan tidak ada lagi di pikiranku.  

Kini aku memakai seragam yang sangat rapi dan sopan, bahkan tertutup. Sungguh karunia Allah SWT. Di pertengahan tahun 2016 aku mengajar di salah satu SMP Negeri di Jakarta sebagai guru magang. Bukan main, mengajar SISWA Jakarta adalah tantangan yang luar biasa. Aku mendapat kelas  8A dan 8B. Dua kelas yang tergolong masih gampang diatur kata guru-guru yang mengajar di SMP tersebut. Awal yang manis dan menenangkan, ternyata memang benar adanya bahwa mereka adalah siswa yang anteng dan mudah dikendalikan. Aku belum kerepotan sama sekali. Mereka mau mendengarkanku dan memperhatikanku selayaknya murid yang menghormati gurunya.

Keadaan dan suasana seperti ini ternyata tidak berjalan lama. Sungguh menarik, terkadang aku menjadi kesempatan mereka untuk mendapatkan free class atau tidak mau belajar. Sungguh rasanya hati ini seperti tersayat, ketika mendengar mereka berkata tidak mau belajar. Ternyata, setiap ada guru magang, siswa memang selalu berlaku seperti itu. Mereka menganggap guru magang pasti akan selalu lebih asyik dari guru-guru pamong. Bahkan menganggapnya seperti teman bagi mereka, tempat berbagi cerita dan bercanda.

Tentu saja aku tak pernah membiarkan hal ini terjadi, saat dalam pembelajaran aku akan bersikap seperti guru. Mencoba tegas dan membimbing, namun jika kita bertemu diluar kelas, kita tentu bisa menjadi teman yang bisa diajak berbagi cerita untuk mereka. aku tidak ingin waktu empat bulanku terasa sia-sia jika hanya terus mengikuti keinginan mereka. Jujur sjaa, mereka adalah anak yang lucu, pintar dan baik sebenarnya. Hanya saja, terkadang mereka merasa bosan dengan aktivitas belajar yang seperti itu-itu saja. Hampir semua siswa mengatakan bahwa mereka bosan dengan cara pengajaran guru-guru yang telah berpengalaman mengajar disana. Belum lagi ditambah aktivitas mereka diluar sekolah, yaitu mengikuti bimbingan belajar dan les-les yang lainnya. Hal ini membuat mereka merasa terkekang dengan keadaan yang mengharuskan mereka terus-terusan belajar.

Keadaan tersebut membuat mereka melampiaskannya pada guru-guru magang. Tak heran jika mereka selalau minta free class. Jadi beginilah rasanya menjadi ibu dari 70 anak. Sejujurnya aku tak ingin mengeluh, hanya saja terkadang sikap mereka membuatku stres bekepanjangan. Mulai dari tidak memperhatikanku saat menyampaikan materi, bermain sendiri, mengobrol dan lainnya. Walaupun memang masih banayak juga siswa yang serius mengikuti pelajaran. Ini membuatku merasa sakit. Sempat aku bertanya, apakah aku yang salah atau mereka yang salah ? tentu saja ini menjadi tanggung jawab kita semua sebagai orang tua dari siswa.

Jika aku yang tidak sabar, maka siapa lagi, jika aku yang tidak tulus, maka siapa lagi ? siapa lagi yang akan menciptakan profesi-profesi lainnya jika tidak ada pahlawan ini ? keikhlasan dan ketulusan begitu tercurahkan untuk mereka, rasa kesal dan amarah sungguh akan meredam hanya dengan sekali melihat mereka tersenyum dan memanggil sebutan “Ibu”. Aku sungguh memahami anak-anak didikku, alasan mereka rajin belajar, alasan mereka yang malas belajar, dan alasan mereka yang terkesan menyepelekan. Sungguh aku akan memahaminya, aku tak akan ambil hati jika ada perkataan tak sopan yang mereka lontarkan. Karena sebetulnya mereka belum mengerti dan dewasa untuk menyadarinya.

Aku sudah cukup sayang dengan mereka, begitu pula sebaliknya. Kelopak mataku seperti menahan bulir air mata, rasanya ingin jatuh ketika pelepasan magang berlangsung yang juga bertepatan dengan perayaan hari guru. Mereka bermuka sendu, memelukku dan mengucapkan terimakasih juga maaf. Memberiku kado perpisahan dan juga bunga. Empat bulan itu aku memang berusaha menjadi ibu mereka yang sabar. Bahkan sempat semua muridku menasihatiku supaya menjadi guru yang bisa marah di kelas jika rebut.
Sejujurnya, aku adalah tipe orang yang suka marah dan agak kurang sabaran. Namun, jika sudah di dalam kelas, seolah-olah hati ini menjadi lembut dan tak ingin menyakiti siapapun. Aku luluh dihadapan mereka. dihadapan anak-anakku yang sedang menuntut ilmu. Aku menyebutnya generasi emasku. Karena aku ingin mereka tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang berkarakter dan berkompeten.

Beginilah ceritaku dalam pengalaman mengajar selama empat bulan. Pengalaman adalah momen penting yang bisa dijadikan sebagai pelajaran hidup. Jika salah di masa lalu, maka akan diperbaiki di masa akan datang. Jika sudah benar di masa lalu, maka tataplah pertahankan dan jadikan sebagai motivasi untuk lebih baik lagi dari masa lalau. Pengalaman mengajar adalah yang tebaik bagi diriku. Banyak kenangan yang mungkin takan beranjak dari ingatanku. Cerita suka dan duka adalah dua rasa yang paling nikmat dalam hidup ini.

Pada dasarnya, hidup bukan hanya sekedar ingin diberi, melainkan juga bagaimana kita memberi. Bukan hanya tuntutan belaka yang kita minta pada Tuhan, tetapi  bagaimana kita mensyukuri dan berbagi karena kita telah diberi oleh kenikmatan oleh Tuhan. Aku adalah seorang yang diberi kelebihan, aku belajar di perguruan tinggi bukan hanya untuk sekedar memuaskan hidupku dan menaikan derajat sosialku saja. Namun, aku patut mensyukuri apa yang telah diberikan Allah kepadaku. Aku tak seharusnya lupa dan menjadi kalap, aku menjadi perantara dari Allah untuk membagikan ilmu dan pengetahuanku pada mereka.

Semoga ceritaku ini bisa menjadi cerita yang menginspirasi. Setidaknya mengajarkan kita untuk selalu bersyukur, ikhlas, dan sabar dalam menjalani hidup ini.

Terimakasih untuk anak-anakku, untuk guru-guru dan dosen yang telah membimbingku, dan juga keluargaku yang selalu mensuportku serta teman dan sahabat yang selalu bersama-sama dalam berjuang dan saling memberi semangat. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar